News Update :

Senin, 14 Maret 2011

Bisa Komunikasi dengan Ikan Lele, Usaha Bertahan 30 Tahun

Fiant-News, Kediri  – Bagi Mohammad Sani (52) kunci sukses usaha pembibitan ikan Lele adalah mampu “berkomunikasi” artinya mengerti keinginan ikan air tawar tersebut. Tak ayal, pria asal Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu dapat bertahan selama tiga puluh tahun lebih menjalani usahanya.

Mohammad Sani memang bukan satu-satunya peternak Ikan Lele di wilayah Kota Kediri. Khususnya, di areal persawahan Kelurahan Campurejo, sedikitnya ada 30 peternak ikan Lele yang melakoni usahanya pembibitan yang sama dengannya. Sebab, dilokasi tersebut memang disebut sebagai sentral budi daya Ikan Lele.

Budi daya ikan lele juga sudah terkenal sejak lama oleh masyarakat di Kabupaten Kediri. Seperti yang dilakukan oleh warga Kecamatan Pare. Akan tetapi, tidak jarang dari mereka yang gulung tikar dan hanya mampu bertahan beberapa saat saja.  terjadi pada saat gejolak harga serta serangan penyakit pada ikan secara massal.

Lalu seperti apa kiat-kiat yang dilakukan oleh Mohammad Sani dalam mengatasi masalah tersebut?.

Ketika ditemui di kolam Ikan Lelenya, Mohammad Sani tengah memberi makan bibit Ikan Lele. Pria yang terbiasa tanpa memakai baju itu terlihat menabur pakan ikan atau yang biasa disebut Lelet. Kira-kira sebanyak tiga timba berukuran 3 kilogram ia tabor ke kolam yang berukuran 11X8 centimeter persegi. “Ada 27.000 ekor bibit lele disini,” kata Mohammad Sani sambil menunjuk kolam yang berair keruh itu, Sabtu (13/3/2011)

Bibit Ikan Lele yang sedang diberi makan Mohammad Sani masih berumur 35 hari. Dia harus memberi makan dua kali dalam seharinya. Biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari. “Kalau bibit ini akan saya besarkan untuk konsumsi. Saya jarang membesarkan seperti ini. Karena biasanya saya jual dalam bentuk bibit,” terang Mohammad Sani

Mohammad Sani mulai bercerita, jika usahanya dimulai saat ia masih perjaka, sekitar tahun 1980 an. Dimana saat itu, di lingkungannya hanya ada dia yang mencoba budi daya Ikan Lele. Selain masih awam, induk Ikan Lele juga sulit didapat. Jika ada, harganya lumayan mahal.

“Pada saat itu saya mencari induknya dari wilayah Bogor. Sepasang induk jantan dan betina seharga Rp 80 ribu. Untuk ukuran uang saat itu tentunya sangat mahal sekali. Tetapi saya sudah memiliki niat untuk mengembangkan usaha ini. Niat awalnya belajar sambil bekerja,” terang pria yang memiliki tinggi badan sekitar 167 centimeter itu.

Berat badan induk Ikan Lele itu sebesar 2 kilogram dan mampu bertelor hingga 150 ekor. Namun, dalam perkembangannya, banyak Ikan Lele yang mati karena tidak mampu bertahan dari penyakitnya. Yaitu, penyakit jamur dan nyonyor pada mulutnya. “Mulutnya berwarna putih, dan lele tidak mau makan akhirnya mati. Begitu juga apabila terkena jamur kulit,” katanya.

Setelah mengalami kegagalan beberapa kali, akhirnya dia mampu mengenali karakter Ikan Lele. “Itu semua tergantung dari peternaknya.Sampai saat ini saya kira tidak ada kendala. Bagaimana cara mengatasi masalah pada ikan dan cara mensiasati apabila terjadi gelojak harga di pasarannya. Baik harga pakan maupun harga ikan itu sendiri,” jelas

Ikan Lele yang mengalami masalah jamur, jelas Mohammad Sani, disebabkan oleh suhu yang terlalu lembap. Biasanya ikan kurang mendapatkan panas matahari yang cukup. Ini terjadi ketika musim penghujan. Untuk itu pengaturan temperan udara sangat penting bagi kelangsungan hidup ikan. Mohammad Sani juga memilih area persawahan dijadikan untuk kolam dengan bahan terpal dari plastic

Kebersihan kolam juga perlu dijaga. Dia biasanya membersihkan kolam selama seminggu sekali. Dan yang paling penting lagi adalah pengaturan sirkulasi air. Mohammad Sani menyebut air harus standing artinya mengalir. Untuk itu dia membuat kolam berskat-sekat (berbilik) dan memasang pipa dengan penyaring pada pertautannya.

Sedangkan untuk masalah penyakit nyonyor pada mulut Ikan Lele disebabkan oleh panas matahari yang terlalu terik. Biasanya terjadi apabila pagi hari masih mendung, dan matahari muncul pada siang hari dengan terik. Untuk itu perlu adanya penutup diatas kolam ikan sebagai pengatur cahaya matahari.

Kini, omset usaha pembibitan Ikan Lele Mohammad Sani mencapai Rp 8 juta setiap 25-35 harinya. Pendapatan itu harus dipotong biaya operasional yang mencapai Rp 2-3 juta. Rincian pakan yang digunakannya, untuk bibit Ikan Lele usia 0-3 hari Rp 15.000,- cacing sebanyak lima kaleng, kemudian lelet udang sebesar Rp 400.000,- untuk 160 kilogram, dan Rp 500.000,- untuk 50 kilogram lelet apung. Serta biaya perawatan untuk dua orang tenaga kerja masing-masing Rp 500.000,-

“Harga bibit lele tergantung ukurannya. Jika dikalkulasi, kenaikan setiap harinya mencapai Rp 25 rupiah per ekor. Kita tinggal mengalikan saja berapa hari akan kita jual,” terang Mohammad Sani

Untuk memasarkan, Mohammad Sani tidak perlu repot. Sebab, pemesan bibit Ikan Lele sudah datang ke kolamnya. Mereka berasal dari wilayah Kabupaten Nganjuk, Tulungagung, Boyolali, Sragen, hingga Bloro. Saat ini, kata Mohammad Sani, harga bibit Ikan Lele cenderung baik. Dari harga Rp 50 rupiah per ekor ukuran 3 kini menjadi Rp 60 rupiah. Sebab, saat ini jumlah konsumen sedang mengalami lonjakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Jalur Berita : Kabar Berita Terbaru dan Terkini 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.