Fiant-News, Tulungagung – Warga Clowok, Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung kian resah. Pasalnya, ribuan pohon mereka ditebangi oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum Tulungagung. Padahal, mayoritas pohon yang ditebang adalah pohon blimbing yang hampir panen.
Menurut salah satu sesepuh warga, Mardiyanto (58), warga semakin dibuat tak nyaman dengan aksi penebangan tersebut. Pasalnya, penebangan dilakukan dengan penjagaan ketat oleh personil polisi dan TNI. Seolah warga adalah pelaku kriminal yang berbahaya.
Selain itu, kerugian warga akibat penebangan ini sudah tak terhitung lagi. Pendapatan dari panen buah yang sudah di depan mata, lenyap begitu saja. Untuk itu, warga berencana menggelar aksi massa, Senin (24/10/2010), di depan gedung DPRD Tulungagung.
Mereka hendak mengadu, agar aksi penebangan secara brutal tersebut dihentikan. “Maunya menghentikan langsung aksi penebangan. Tapi takutnya terjadi adu fisik dengan aparat,” ujarnya.
Mardiyanto menambahkan, dulunya tanah yang ditanami warga adalah sungai yang ada sejak zaman Belanda. Namun sejak beroperasinya Terowongan Niama di Pantai Popoh, sungai lambat lain tak terpakai dan mati. Warga sedikit demi sedikit menutup dengan timbunan tanah, bertahun-tahun hingga sungai sepanjang 1 kilometer lebih dan lebar 50 meter berubah jadi daratan.
Namun setelah berwujud daratan, tanah tersebut dijual pihak Pengairan. Warga tak kebagian apa. Bahkan ketika ada dua keluarga miskin hendak memakai tanah untuk rumah, tetap diharuskan membeli. “Mungkin benar ini tanah negara, tapi lihatlah perjuangan warga dulunya merawat tanah ini hingga bisa menjadi daratan,” pungkasnya. [Fiant]
Menurut salah satu sesepuh warga, Mardiyanto (58), warga semakin dibuat tak nyaman dengan aksi penebangan tersebut. Pasalnya, penebangan dilakukan dengan penjagaan ketat oleh personil polisi dan TNI. Seolah warga adalah pelaku kriminal yang berbahaya.
Selain itu, kerugian warga akibat penebangan ini sudah tak terhitung lagi. Pendapatan dari panen buah yang sudah di depan mata, lenyap begitu saja. Untuk itu, warga berencana menggelar aksi massa, Senin (24/10/2010), di depan gedung DPRD Tulungagung.
Mereka hendak mengadu, agar aksi penebangan secara brutal tersebut dihentikan. “Maunya menghentikan langsung aksi penebangan. Tapi takutnya terjadi adu fisik dengan aparat,” ujarnya.
Mardiyanto menambahkan, dulunya tanah yang ditanami warga adalah sungai yang ada sejak zaman Belanda. Namun sejak beroperasinya Terowongan Niama di Pantai Popoh, sungai lambat lain tak terpakai dan mati. Warga sedikit demi sedikit menutup dengan timbunan tanah, bertahun-tahun hingga sungai sepanjang 1 kilometer lebih dan lebar 50 meter berubah jadi daratan.
Namun setelah berwujud daratan, tanah tersebut dijual pihak Pengairan. Warga tak kebagian apa. Bahkan ketika ada dua keluarga miskin hendak memakai tanah untuk rumah, tetap diharuskan membeli. “Mungkin benar ini tanah negara, tapi lihatlah perjuangan warga dulunya merawat tanah ini hingga bisa menjadi daratan,” pungkasnya. [Fiant]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar