News Update :

Kamis, 21 Juli 2011

Pelor Nazaruddin

(JalurBerita) Andai kasus dugaan korupsi wisma atlit terjadi saat Udin menciptakan lagu 'Udin Sedunia', boleh jadi Muhammad Nazaruddin bakal masuk dalam 'Liga Udin Sedunia yang menghebohkan' di lagu itu. Betapa tidak, dari luar negeri, politisi Partai Demokrat ini menembakkan pelor berupa isu-isu skandal politik di tubuh partainya sendiri.

Target utamanya: sang ketua umum, Anas Urbaningrum. Bahkan nama petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi pun terseret-seret sebagai bagian, yang menurut Nazaruddin, membikin skenario untuk mengambinghitamkan dirinya.

Nazaruddin mendapat panggung cukup enak di stasiun televisi. Nazaruddin yang konon susah dihubungi oleh pengurus Demokrat, ternyata enteng saja memberikan keterangan publik tanah air melalui televisi.

Pernyataan Nazaruddin tentu saja tak semuanya benar, juga tak semuanya salah. Dugaan terhadap Potensi Nazaruddin hanya mengungkapkan sebagian fakta atau justru memelintir fakta patut dikedepankan pula, mengingat sasaran tembak Nazar hanya orang-orang tertentu dan seperti melindungi yang lain.

Namun di sisi lain, tembakan Nazaruddin sudah berhasil mengenai sasarannya: citra. Di tengah masyarakat yang tak kritis dan cenderung menelan apa yang dicitrakan media massa, tembakan Nazaruddin berhasil melukai citra tokoh-tokoh yang dijadikan sasaran. Terlepas apakah tokoh-tokoh itu bersalah atau tidak.

Betapa malangnya para tokoh yang ditembak Nazaruddin. Mereka tak bisa membalas tembakan itu melalui jalur hukum, mengingat Nazar dengan nyaman berada di luar negeri, di luar jangkauan aparat.

Layakkah Nazaruddin disebut sebagai peniup peluit atau whistle blower? Istilah peniup peluit ditujukan bagi mereka yang dengan berani membocorkan sebuah kejahatan, dengan risiko mengorbankan dirinya. Peniup peluit ini dilindungi oleh aparat hukum.

Nazaruddin memang 'bernyanyi' soal dugaan skandal. Namun, dia bukan sang peniup peluit. Dia hanya mengoceh tanpa disertai bukti-bukti yang bisa diverifikasi. Talk is cheap. Ngomong itu gampang. Ngomong itu murah. Seorang peniup peluit tak hanya bicara, tapi juga memberikan bukti-bukti soal apa yang dia ketahui. Pernyataan Nazaruddin juga dilontarkan tidak di bawah yuridiksi hukum Indonesia. Dia belum menjadi pihak yang dilindungi karena keterangannya sangat berharga untuk membongkar skandal yang dimaksudkan.

Sejauh ini, pelor Nazaruddin hanya menyiapkan 'arena' untuk memanaskan konstalasi politik, khususnya di Demokrat. Tanpa verifikasi dan pembuktian cukup, pernyataan Nazaruddin tak ubahnya angin yang menyambar ke sana kemari. Saatnya, pemerintah membuktikan pernyataan Nazaruddin dengan membekuknya dan mengadilinya dalam sebuah proses hukum.

Pertanyaan: maukah? Mampukah? [nai]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Jalur Berita : Kabar Berita Terbaru dan Terkini 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.