News Update :

Rabu, 13 April 2011

Aceh jadi Lumbung Pangan Nasional

Fiant-News, BANDA ACEH - Pemerintah Aceh menyatakan provinsinya sudah siap menjadi lumbung beras Indonesia, dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar mengatakan, Aceh sanggup menghasilkan lima juta ton beras per tahun jika lahan persawahan yang ada sekarang tergarap maksimal.

“Aceh memang sudah dimasukkan sebagai lumbung pangan nasional dan kita sudah siap. Tinggal saja keseriusan Pemerintah Pusat dalam mendukung ini,” kata Nazar di Banda Aceh, Selasa (12/4/2011).

Aceh saat ini memiliki 700 ribu hektar lahan persawahaan, namun hanya 380 ribu hektare (ha) yang produktif selebihnya terbengkalai akibat belum adanya irigasi yang mengairi.

Menurut Nazar dari 380 ribu ha luas area persawahaan itu, baru 40 persen yang terairi irigasi teknis, sehingga produktivitas pembangunan belum bisa dimaksimalkan secara menyeluruh.

Dari 380 ribu ha area persawahan yang ada sekarang, Aceh mampu menghasilkan 1,58 juta ton beras pada 2010 dan tahun ini ditargetkan bisa meningkat mencapai 1,7 juta ton.

Nazar mengatakan jika ke 700 ribu hektar sawah yang ada sekarang mampu teraliri irigasi, target itu bisa ditingkatkan sampai 5 juta ton. “Artinya bisa sampai 5 juta ton lebih tiap tahun,” ujar dia.

Tahun ini Pemerintah Aceh akan mengalokasi dana Rp390 miliar untuk sektor pengairan, sebagian besar untuk membangun irigasi teknis mengairi sisa dari 380 ribu ha sawah yang belum tersentuh irigasi.

Nazar meminta adanya dukungan dana dari Pemerintah Pusat untuk membangun irigasi teknis mengairi 320 ribu ha persawahaan yang terlantar di Aceh selama ini untuk memaksimalkan produktivitas gabah.

Menurutnya Pemerintah Aceh sudah memasukkan sektor pertanian, salah satunya untuk menjadi lumbung beras nasional dalam master plan pembangunan ekonomi Aceh.

Selain pertanian, perikanan, perkebunan, kelautan dan perikanan juga sudah dimasukkan dalam program andalan pembangunan Aceh di masa mendatang, dalam rangka menjadikan Provinsi itu mandiri dari ketergantungan minyak dan gas alam yang saat ini produktivitasnya terus menurun.

Aceh termasuk Provinsi surplus beras, karena produksi beras yang mencapai 1,5 juta ton tahun ini. Sedangkan untuk konsumsi hanya 800 ribu ton per tahun.

Meski Aceh terus mengalami surplus gabah, namun selama ini gabah dari Aceh banyak mengalir ke pasar Sumatera Utara, karena harga beli di sana lebih tinggi dari Harga Pokok Pembelian ditetapkan Pemerintah sehingga Aceh hanya mendapat bagian kecil dari produksi.

Nazar mengatakan hal ini terjadi akibat belum adanya industry pengolah di Aceh sehingga Pemerintah Provinsi tidak bisa membendung mengalirnya beras ke luar daerah.

“Karena itu kita sekarang butuh perhatian serius dari Pemerintah Pusat. Artinya sector-sektor ini harus dimasukkan ke dalam master plan nasional, sehingga kita bisa dapat Rp1 triliun dari setiap proyek itu sehingga bisa kita bangun industri prossecing secara menyeluruh,” kata dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Jalur Berita : Kabar Berita Terbaru dan Terkini 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.